Dalam pembahasan MARKAS4D, ruang keluarga berangkat dari kebutuhan penghuni, bukan dari susunan furnitur yang sekadar tampak rapi. Rancangan dalam ruangan mencakup pemilihan dan penataan perabot, warna, tekstur, pencahayaan, serta aksesori untuk mendukung fungsi dan estetika ruang [1]. Di area bersama, langkah awalnya adalah menentukan kegiatan yang ingin diwadahi, kemudian menyusun furnitur dan ruang gerak agar saling mendukung.
Tentukan fungsi utama ruang keluarga
Mulailah dengan memilah kegiatan yang perlu mendapat tempat. Apakah ruang ini terutama untuk berbincang, menonton, atau digunakan bergantian untuk beberapa keperluan? Tidak semua fungsi harus mendapat porsi yang sama. Menentukan prioritas membantu memberi arah pada tata letak, sejalan dengan prinsip bahwa rancangan ruang perlu memahami kebutuhan dan fungsi penghuninya [1].
Misalnya, jika berbincang menjadi prioritas, susunan tempat duduk dapat dibuat saling menghadap. Jika ruang juga dipakai untuk menonton, arah tempat duduk dan posisi layar bisa ikut dipertimbangkan. Ini pilihan penataan, bukan aturan baku: fungsi yang paling penting bagi penghuni menjadi acuan, sementara kegiatan lain disesuaikan dengan ruang yang tersedia.
Petakan jalur sirkulasi sebelum menempatkan furnitur
Jalur sirkulasi sebaiknya dipikirkan sebagai bagian dari tata letak, bukan ruang sisa setelah semua perabot mendapat tempat. Coba petakan rute yang perlu dilalui penghuni, misalnya dari pintu menuju area duduk atau bagian lain yang digunakan. Setelah itu, susun furnitur dengan mempertimbangkan rute tersebut.
Untuk menilai susunannya, perhatikan proporsi, skala, dan ruang kosong di antara perabot. Penataan perabot memang mempertimbangkan unsur-unsur itu, sementara fleksibilitas dan kemudahan memindahkan furnitur juga patut diperhitungkan [1]. Sebagai contoh hipotetis, jika meja menghalangi rute yang ingin dibiarkan terbuka, meja dapat digeser atau posisinya diubah.
Perhatikan hubungan ukuran furnitur dan ruang kosong
Nilai sofa, meja, dan rak sebagai satu susunan, bukan sebagai barang yang berdiri sendiri. Perabot yang sesuai ukurannya dengan ruang dapat membantu menjaga tata letak tetap seimbang; area yang tidak ditempati furnitur pun bisa diperlakukan sebagai ruang gerak, bukan kekosongan yang harus segera diisi. Proporsi, skala, dan ruang negatif termasuk pertimbangan dalam penataan perabot [1].
Artinya, tujuan penataan bukan memasukkan sebanyak mungkin furnitur. Jika sebuah meja berguna tetapi mengambil tempat pada lintasan yang hendak dijaga, pertimbangkan posisi atau kebutuhannya kembali. Keputusan seperti ini membuat fungsi benda dan kebutuhan bergerak tetap diperhitungkan bersama.
Sisakan pilihan untuk perubahan kebutuhan
Susunan ruang tidak harus selalu tetap. Rancangan dalam ruangan yang efektif memperhitungkan fleksibilitas agar ruang dapat menyesuaikan berbagai kebutuhan dan perubahan gaya hidup penghuni [1]. Dalam praktik penataan, pertimbangkan perabot mana yang perlu menetap dan mana yang sebaiknya mudah dipindahkan.
Jika ruang keluarga kadang digunakan untuk kegiatan berbeda, misalnya, furnitur yang lebih mudah digeser dapat menjadi pilihan untuk mengubah susunan saat diperlukan. Kuncinya bukan membuat ruang terus berubah, melainkan menghindari tata letak yang sejak awal menutup kemungkinan penyesuaian.
Fungsi ruang, rute yang ingin dijaga, dan posisi furnitur saling berkaitan. Menentukan kebutuhan terlebih dahulu memberi dasar untuk memilih susunan; memperhatikan ruang kosong dan fleksibilitas membantu memastikan area bersama tetap sesuai dengan cara penghuni ingin menggunakannya.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Rancangan dalam ruangan. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29422583&title=Rancangan_dalam_ruangan (diakses 2026-10-04).